Tampilkan postingan dengan label kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Februari 2014

Ini Pekerjaan Pertama dari 10 Miliuner Dunia

Majalahinovasi.com – Saat ini banyak milioner di dunia yang berasal dari bawah. Dengan kerja keras dan dedikasi para orang itu sukses menjadi orang kaya yang banyak diimpikan orang.
Para milioner ini seperti halnya orang biasa yang melakukan beberapa pekerjaan sederhana sebelum menemukan jalan mereka sendiri untuk meraih sukses.
Orang sukses tidak melakukan hal yang berbeda, tetapi mereka melakukan sesuatu dengan berbeda.
Para milioner yang saat ini memiliki banyak uang, terbang dengan pesawat jet dan kapal pribadi, memiliki kerajaan bisnis, itu awalnya mimpi yang jauh sebelum mereka memulai pekerjaan pertama mereka.

Firmansyah Kantongi 4 Milyar per Bulan dari Bisnis Sandal Lucu

Majalahinovasi.com – Sandal karakter kartun, mungkin bagi Anda hal ini suatu bisnis yang sepele. Namun siapa sangka, pengusaha asal Surabaya, Firmansyah (30) mampu mengantongi omzet hingga Rp 4 miliar per bulan.
Bapak satu anak ini, memberi nama sandal-sandalnya itu dengan merek Sancu alias Sandal Lucu. Segala tokoh kartun menempel di alas kaki seperti doraemon, sinchan, saun the sheep, hello kitty, spiderman, spongebob, dan lain-lain.

Tri Sumono : Kisah Pengusaha Sukses dari Modal No

Majalahinovasi.com – Pernahkah anda membayangkan seorang tukang sapu yang bekerja membersihkan jalanan dari sampah dan dedaunan. Atau pernahkah anda membayangkan seorang tukang kuli bangunan yang harus bekerja banting tulang menghadapi panasnya terik sinar matahari demi menafkahi keluarga. Tentu saja anda tidak pernah melirik orang seperti ini.
Tapi pernahkah anda berpikir orang seperti yang tersebut di atas kini menjadi seorang pengusaha sukses yang memiliki omset hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya. Mungkin anda akan terkagum-kagum atau cuma bisa melohok melihatnya.
tri-sumono
Tri Sumono

Sabtu, 04 Januari 2014

ENTREPRENEUR : DR. IR. CIPUTRA

Kalau Anda sudah merambah dunia bisnis, pasti Anda tidak asing lagi dengan orang yang satu ini: Dr. Ir. Ciputra
Beliau lahir di kota kecil Parigi, Sulawesi Tengah pada tanggal 24 Agustus 1931 dengan nama Tjie Tjin Hoan, ia anak ke 3 dari pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio yang juga berlatar belakang keluarga sederhana. Ketika berusia 12 tahun ia kehilangan ayahnya yang meninggal di tahanan tentara pendudukan Jepang karena tuduhan palsu dianggap mata-mata Belanda.
Kepahitan masa kecil telah menimbulkan tekad dan keputusan penting yaitu memiliki cita-cita bersekolah di Pulau Jawa demi hari depan yang lebih baik, bebas dari kemiskinan dan kemelaratan. Akhirnya Dr. Ir. Ciputra kecil kembali ke bangku sekolah walau terlambat. Ia terlambat karena negara kita masih dalam suasana peperangan dengan tentara Belanda maupun Jepang. Ia masuk kelas 3 SD di desa Bumbulan walau usianya sudah 12 tahun atau terlambat hampir 4 tahun. Ketika usianya 16 tahun lulus dari SD kemudian melanjutkan SMP di Gorontalo dan jenjang SMA di Menado setelah itu memasuki ITB jurusan arsitektur di Bandung. Terlambat tapi bukan berarti terhambat bukan..?

PROFIL PENGUSAHA ; PURDI E CHANDRA

Purdi E Chandra lahir di Lampung 9 September 1959. Secara “tak resmi” Purdi sudah mulai berbisnis sejak ia masih duduk di bangku SMP di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, dan kemudian menjual telurnya di pasar.
Bisnis “resminya” sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Namun karena merasa “tidak mendapat apa-apa” ia nekad meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis.

Selasa, 24 Desember 2013

Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak

Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak


Apa yang terjadi pada kita saat ini, lebih banyak ditentukan oleh perlakuan orang tua kita di masa lalu, dan perlakuan kita saat ini kepada anak-anak kita, akan mempengaruhi masa depan kehidupan mereka.
Perlakuan orang tua: Sering mendapat kritikan secara terus menerus, tidak dihargai, tidak dicintai dan tertolak dari orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga dan selalu merasa tertolak di tengah orang lain.

Minggu, 17 Maret 2013

Harmonisasi: Kunci Kebahagiaan


Happiness is when: what you think, what you say, and what you do are in harmony. (Mahatma Gandhi)

Seorang murid bertanya kepada gurunya apa yang dimaksud dengan kebahagiaan itu. Sang guru tersenyum dan diam. Karena tak puas murid itu kemudian bertanya lagi apakah penderitaan itu. Sang guru kemudian tertawa terbahak-bahak dan diam. Kali ini sang murid menjadi penasaran dan murid itu bertanya lagi apakah kebijaksanaan itu. Sang guru menangis dan diam. Murid tersebut pun merasa bingung dengan jawaban sang guru. Ia pun bertanya mengapa gurunya tersenyum, tertawa terbahak-bahak, dan menangis kemudian diam setelahnya.
Sang guru menjawab ia tersenyum karena semua orang pasti mengharapkan kebahagiaan. Ia tertawa terbahak-bahak karena walaupun semua orang mengatakan ingin bahagia namun mereka justru melakukan hal yang sebaliknya yang tidak akan membuat mereka bahagia. Muridnya tertegun kemudian bertanya mengapa gurunya menangis saat ditanya apa kebijaksanaan itu. Sang guru menjawab bahwa ia menangis karena sedih dengan kenyataan bahwa hanya sedikit orang yang mengerti kebijaksanaan. Dan tanpa ditanya oleh muridnya, sang guru meneruskan penjelasannya mengapa ia selalu diam setelah semua itu. Sang guru terdiam karena mengetahui sepenuhnya bahwa tiada yang dapat dilakukan untuk merubah semua itu, karena segala sesuatu sesungguhnya berpulang dan tergantung sepenuhnya pada diri sendiri…
Salam hebat untuk Anda semua,

Mengenali 7 Sumber Tekanan Mental untuk Menggapai Kebahagiaan


Setiap manusia ingin mendapatkan kebahagiaan. Banyak dari mereka menempuh berbagai upaya untuk mendapatkannya. Ada yang bekerja keras, mendalami spiritual dan bahkan ada yang sampai minum minuman keras dan menggunakan narkoba. Setelah sekian lama mencari banyak yang menyadari bahwa yang mereka dapatkan adalah sesuatu yang semu.
Salah satu cara yang bisa kita tempuh untuk menggapai kebahagiaan adalah dengan mengenali sumber ketidakbahagiaan dan kemudian meniadakannya.
Pada artikel sebelumnya kita telah mengenali 4 keinginan dasar manusia. Ada baiknya kita ingat lagi sekilas. Yang pertama adalah keinginan untuk menapatkan rasa aman, kemudian keinginan untuk mengendalikan/dikendalikan lalu keinginan untuk  mendapatkan persetujuan atau penerimaan, dan yang terakhir adalah keinginan untuk dianggap spesial atau berbeda dari yang lain. Setiap tindakan fisik kita didasari oleh pikiran yang dilandasi oleh keempat hal mendasar tersebut. Kita rela melakukan upaya apapun untuk mendapatkan keempat hal itu secara sadar ataupun bawah sadar.

Apa Yang Menarik Untuk Di Buru Orang Dalam Hidup … ?


Yang tinggal di gunung merindukan pantai.

Yang tinggal di pantai merindukan gunung.
Di musim kemarau merindukan musim hujan
Di musim hujan merindukan musim kemarau
Diam di rumah merindukan bepergian
Setelah bepergian merindukan rumah
Waktu tenang mencari keramaian
Waktu ramai mencari ketenangan
Setelah berkeluarga, belum punya anak mengeluh, setelah memiliki anak mengeluh biaya hidup dan pendidikan

Selasa, 05 April 2011

HIKMAH ITU SEPERTI HARTA KARUN


Pernahkah Anda dapat cobaan? Pernahkan Anda mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan? Namun pernahkah Anda setelah itu tiba-tiba mendapatkan kenikmatan, kebahagiaan, "hadiah" setelah itu?

Ya.. Hidup ini seperti roda berputar, kadang diatas, kadang dibawah. Tentunya seperti halnya organ tubuh kita semuanya saling melengkapi. Meski banyak orang yang menggangap tangan kanan itu tangan baik, namun kita juga sekali waktu membutuhkan peran tangan kiri kita.

Bangkitlah...kamu mampu bekerja .....jangan malas


Pada sebuah kesempatan, Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah ditanya, “Ada seorang pemuda, ia mampu bekerja tapi enggan bekerja. Apa pendapat anda?”
Beliau menjawab:
Pendapatku sama dengan pendapat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,
أرى الشاب فيعجبني فأسأل عن عمله فيقولون لا يعمل فيسقط من عيني
“Aku melihat seorang pemuda, ia membuatku kagum. Lalu aku bertanya kepada orang-orang mengenai pekerjaannya. Mereka mengatakan bahwa ia tidak bekerja. Seketika itu pemuda tersebut jatuh martabatnya di mataku”

Rabu, 02 Maret 2011

Menembus Mental Blocking


Anda tahu Gajah…? Ya, Gajah adalah seekor binatang yang dikenal karena kekuatannya. Di India Gajah digunakan untuk mengangkut gelondongan kayu yang besar dari tengah hutan. Abrahah pernah menggunakan pasukan Gajah untuk menghacurkan Ka’bah. Namun disebuah tempat sirkus anda melihat pemandangan yang lain. Dipojok sana ada seekor Gajah besar yang kakinya terikat pada sebuah rantai, ujung rantai yang satunya terpaut pada sebuah patok kayu yang ditanamkan kedalam tanah.
Dilihat sepintas sebenarnya Gajah itu bisa mencabut patok kayu itu dengan mudah, mengapa ia tidak melakukannya? Ia dengan patuh tunduk pada rantai yang mengikat kakinya, ia tidak pernah berjalan jauh dari patok kayu tersebut. Ternyata ia telah terikat pada patok kayu itu sejak masih kecil. Ketika masih kecil dahulu ia pernah beberapa kali mencoba melepaskan rantainya dari patok kayu tersebut, namun ia tidak sanggup. Dibenaknya telah tertanam keyakinan bahwa patok kayu itu sangat kuat, ia tidak mungkin mencabutnya dari tanah. Ketika ia telah dewasa keyakinan itu tetap tertanam dalam dirinya. Selama Gajah itu cukup memperoleh rumput kering, air minum dan kadang kadang kacang, maka ia sudah puas menjalani hidupnya hanya dalam radius beberapa meter dari patok kayu tersebut.

Ternyata kebanyakan dari kita, manusia ini juga mengalami hal serupa seperti gajah tersebut. Gerakan kita dibatasi oleh kepercayaan kepercayan atau keyakinan yang keliru. Kita membiarkan kemampuan kita dibatasi oleh rantai rantai yang sebenarnya bisa kita putuskan dengan mudah. Kita terpenjara dalam fikiran dan keyakinan yang keliru. Kita akan berkata pada diri kita sendiri: ”Saya tidak mungkin mengerjakan hal itu”… ”Saya memang ditakdirkan untuk gagal… ya sudah sabar saja”… ”Saya tidak pantas mendapat kekayaan sebesar itu”… ”Saya terlahir dari keluarga miskin… tidak mungkin mendapatkan semua itu”… ”Saya tidak pantas mendapat penghargaan ini….” dan lain sebagainya. Inilah yang disebut dengan mental blocking atau hambatan mental yang merintangi seseorang untuk maju dan sukses dalam karirnya.
Saya pernah mengalami hambatan mental blocking ini ketika baru kembali dari pendidikan di LPPU ITB Bandung tahun 1982 yang lalu. Sebagai tanda terimakasih saya kepada PLN yang telah menyekolahkan saya keBandung saya harus betul betul mengabdi, saya harus puas menerima gajih tiap tanggal satu, tidak ada jalan lain bagi saya untuk mendapat penghasilan tambahan. Didalam fikiran saya tertanam kuat bahwa saya tidak mungkin mendapatkan penghasilan lain, kecuali hanya dari gaji yang saya terima tiap bulan. Saya harus puas dengan keadaan saya itu.
Bertahun tahun saya menjalani hidup dengan sabar, hidup pas pasan bahkan sangat kekurangan. Tetangga kiri kanan sudah merehab rumah, saya tetap sabar menghuni rumah sesuai aslinya yang saya terima dari BTN. Sampai satu ketika saya membaca buku ”Petuah ilmu kerezekian” oleh Suroso Orakas. Saya menyadari kekeliruan saya, mental blocking telah memenjarakan saya pada satu keyakinan yang keliru. Saya berusaha mendobrak keyakinan yang keliru tersebut. Saya tanamkan keyakinan bahwa Allah bisa memberi saya rezeki dari mana saja yang dikehendaki-Nya, setiap hari saya bayangkan dan saya rasakan bahwa saya mempunyai uang yang cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup saya (walaupun pada kenyataannya tidak demikian) . Sampai akhirnya saya berkenalan dengan seorang teman yang mengajak bekerjasama memasarkan kapasitor pada gedung dan pabrik yang terkena denda Kvarh karena faktor kerjanya buruk. Sejak itu saya terbebas dari kesulitan finansial .[Ikuti kisahnya pada tulisan saya ”Mental Picture 2” .
Dalam kehidupan sehari hari banyak orang yang mengalami hambatan karena adanya mental blocking yang memang sudah muncul sejak masa kanak kanak didalam dirinya. Dr Maxwell Maltz berpendapat bahwa sistem keyakinan merupakan semacam sistim hipnotis-diri. ”Tidaklah berlebihan” tulisnya ”bila dikatakan bahwa setiap manusia dalam kadar tertentu dihipnotis oleh gagasan gagasan dari orang lain yang terlanjur ditelannya mentah mentah, atau gagasannya sendiri yang ditanamkan menjadi keyakinan dalam dirinya. Membongkar dan menembus mental blocking yang menghambat karir atau pengembangan diri seseorang bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan kemauan dan usaha yang ekstra.
Berbagai cara dilakukan untuk membongkar dan menembus mental blocking yang menghambat tersebut. Diantaranya dengan hipnoterapi, mengikuti kursus untuk membangkitkan motivasi, mengikuti workshop tentang pengembangan pribadi, mengulang ulang kalimat yang membangkitkan semangat setiap hari, dan lain sebagainya. Tidak semua mental blocking bersifat negatif diantaranya ada yang bersifat positif, misalnya rasa malu jika terbuka aurat didepan umum (terutama bagi wanita), merasa berdosa jika berdusta, atau tidak menepati janji, merasa berdosa jika melakukan perbuatan korupsi atau mengambil harta yang bukan haknya, merasa bersalah jika berselingkuh terhadap suami atau istri. Mental blocking yang positip tentu tidak harus dibongkar bahkan harus dipelihara dengan sebaik baiknya. Yang harus dibongkar adalah mental blocking negatif yang menghambat karir atau merintangi pengembangan pribadi.
Mental blocking negatif dapat menghambat seseorang untuk meraih sukses misalnya, kekayaan, jabatan, karir, jodoh, prestasi olah raga, pengembangan bisnis dan lain sebagainya. Mental blocking muncul didalam diri tanpa disadari. Perlu perhatian khusus untuk meneliti apa yang menjadi mental blocking yang menghambat karir kita masing masing. Setelah ditemukan juga perlu usaha yang kuat untuk menembus dan membongkar mental blocking tersebut. Adi W Gunawan dalam artikelnya tentang mental blocking di www.adiwgunawan.com menceritakan pengalamannya menangani beberapa kliennya yang menghadapi masalah mental blocking yang menghambat masalah perjodohan dan karirnya sebagai berikut:

Ini dari kasus klinis yang pernah saya tangani. Ada seorang wanita, sebut saja Rosa, cantik, ramah, cerdas, pintar cari uang, dan mandiri tapi sampai saat bertemu saya, usianya saat itu 35 tahun, masih jomblo alias single, belum dapat jodoh.
Rosa juga bingung mengapa ia sulit dapat jodoh. Ada banyak pria yang suka padanya. Namun setiap kali pacaran dan jika sudah masuk ke rencana untuk menikah, selalu muncul masalah sehingga hubungan mereka akhirnya putus.
Setelah dicari akar masalahnya, saya menemukan program pikiran, di pikiran bawah sadarnya, yang sangat baik namun justru bersifat menghambat dirinya untuk bisa dapat jodoh.
Apa itu?
Ternyata ayah Rosa meninggal saat ia masih kecil, usia 7 tahun. Sejak saat itu ibunya yang bekerja keras menghidupi keluarga mereka. Bahkan pernah sampai jatuh sakit dan hampir meninggal.
Nah, pas saat ibunya sakit keras,Rosa berdoa dan mohon kesembuhan untuk ibunya. Dan dalam doanya ia berjanji bahwa ia akan membalas semua pengorbanan ibunya, setelah ia dewasa kelak, dengan selalu menyayangi dan mendampingi ibunya.
Janji ini ternyata masuk ke pikiran bawah sadarnya dan menjadi program. Benar, sejak saat itu dan hingga ia dewasa Rosa adalah anak yang begitu sayang pada ibunya. Selama ini program pikirannya telah sangat membantu Rosa dalam menjalani hidupnya. Rosa bekerja keras, menjadi anak yang sangat mencintai ibunya. Dan ibunya juga begitu bersyukur dan bahagia karena mempunyai anak yang begitu menyayanginya. Nah, program yang sangat positif ini tiba-tiba berubah menjadi program yang menghambat (baca: mental block) saat Rosa ingin berkeluarga.
Program ini mensabotase setiap upaya Rosa untuk mendapat pasangan hidup. Saat saya berdialog dengan “bagian” (baca: program) yang tidak setuju bila Rosa menikah, saya mendapat jawaban yang jelas dan lugas. Ternyata “bagian” ini khawatir Rosa tidak bisa menepati janjinya, menyayangi dan mendampingi ibunya karena bila menikah, menurut pemikiran “bagian” ini, Rosa harus mengikuti suaminya dan meninggalkan ibunya sendiri. “Bagian” ini tidak setuju dengan hal ini.
Nah, anda jelas sekarang?
Saya beri satu contoh lagi biar lebih jelas.
Saya mendapat email dari seorang pembaca buku, sebut saja Bu Asri, yang mengeluh bahwa ia telah berusaha keras untuk menaikkan penghasilannya namun selalu gagal. Setelah membaca buku The Secret of Mindset dan mendengarkan CD Ego State Therapy ia menemukan program pikiran yang menghambat dirinya, khususnya di aspek finansial.
Ternyata dulu, saat akan menikah, ia mendapat wejangan dari ibunya, “Nak, ingat ya… nanti waktu menjadi seorang istri, cintai suamimu dengan tulus, baik di kala suka mapun duka, layani dengan sepenuh hati, tempatkan suami sebagai kepala rumah tangga, jaga perasaan dan harga diri suami, jangan melebihi suamimu…….”
Pembaca, wejangan (baca: program) ini tentu sangat baik. Namun menjadi masalah karena program ini justru menghambat upaya Bu Asri meningkatkan penghasilannya. Selidik punya selidik ternyata penghasilan Bu Asri saat ini sama dengan penghasilan suaminya. Makanya saat ia berusaha menaikkan income-nya selalu saja ada hambatan. Program ini yang menghambat dan tujuannya juga sangat “positif” yaitu agar Bu Asri bisa menjadi istri yang baik sesuai wejangan ibunya.
Bagaimana, jelas sekarang?
Suatu program, selama tidak bersifat menghambat diri kita maka jangan diotak-atik. Biarkan saja. Nggak usah bingung. Ada rekan yang, setelah membaca buku dan mengerti soal mental block, begitu giat mencari berbagai mental blocknya. Bahkan sampai mengeluh,”Pak, saya kok nggak menemukan mental block saya ya?”.
Lha, kalo memang nggak ada trus apa harus dipaksakan ada? Bukankah lebih baik bila waktu yang ada digunakan untuk belajar dan mengembangkan diri? Kekhawatiran karena tidak menemukan mental block justru bisa menjadi mental block baru.
Lalu, bagaimana sikap yang benar?
Ya, santai saja lah. Nggak usah aneh-aneh. Kita harus netral saja. Selama hidup kita happy, usaha lancar, semua berjalan seperti yang kita rencanakan dan harapkan maka nggak usah pusing soal mental block.
Mental block akan kita rasakan saat ada penolakan atau hambatan untuk mencapai suatu target yang lebih tinggi. Penolakan ini juga timbul saat kita ingin berubah.
Ini saya kutip email yang baru saya terima dari seorang pembaca buku saya:
“Saya ingin lebih memahami dan  membaca buku-buku anda. Saya beli The Secret of Mindset. Saat baca ada aja perasaan yang membuat saya malas, ngantuk dsb. Padahal saya sungguh ingin membaca buku TSOM. Bagaimana solusinya?”
Perasaan malas, mengantuk, dan berbagai perasaan lain yang menghambat upaya untuk berubah ini adalah ulah nakal dari mental block kita. Nah, ini saatnya kita perlu menemukan dan mengenali mental block ini. Setelah ditemukan… ya dibereskan. Gitu aja kok repot.
Intinya, jika anda telah menetapkan target yang lebih tinggi, dari apa yang telah anda capai saat ini, dan anda merasa ada yang tidak enak di hati anda maka ini indikasi adanya mental block.
Atau jika anda mengalami kegagalan yang beruntun atau yang mempunyai pola kegagalan yang sama, maka ini indikasi sabotase diri alias mental block.

Pembaca, wejangan (baca: program) ini tentu sangat baik. Namun menjadi masalah karena program ini justru menghambat upaya Bu Asri meningkatkan penghasilannya. Selidik punya selidik ternyata penghasilan Bu Asri saat ini sama dengan penghasilan suaminya. Makanya saat ia berusaha menaikkan income-nya selalu saja ada hambatan. Program ini yang menghambat dan tujuannya juga sangat “positif” yaitu agar Bu Asri bisa menjadi istri yang baik sesuai wejangan ibunya.
Bagaimana, jelas sekarang?
Suatu program, selama tidak bersifat menghambat diri kita maka jangan diotak-atik. Biarkan saja. Nggak usah bingung. Ada rekan yang, setelah membaca buku dan mengerti soal mental block, begitu giat mencari berbagai mental blocknya. Bahkan sampai mengeluh,”Pak, saya kok nggak menemukan mental block saya ya?”.
Lha, kalo memang nggak ada trus apa harus dipaksakan ada? Bukankah lebih baik bila waktu yang ada digunakan untuk belajar dan mengembangkan diri? Kekhawatiran karena tidak menemukan mental block justru bisa menjadi mental block baru.
Lalu, bagaimana sikap yang benar?
Ya, santai saja lah. Nggak usah aneh-aneh. Kita harus netral saja. Selama hidup kita happy, usaha lancar, semua berjalan seperti yang kita rencanakan dan harapkan maka nggak usah pusing soal mental block.
Mental block akan kita rasakan saat ada penolakan atau hambatan untuk mencapai suatu target yang lebih tinggi. Penolakan ini juga timbul saat kita ingin berubah.
Ini saya kutip email yang baru saya terima dari seorang pembaca buku saya:
“Saya ingin lebih memahami dan  membaca buku-buku anda. Saya beli The Secret of Mindset. Saat baca ada aja perasaan yang membuat saya malas, ngantuk dsb. Padahal saya sungguh ingin membaca buku TSOM. Bagaimana solusinya?”
Perasaan malas, mengantuk, dan berbagai perasaan lain yang menghambat upaya untuk berubah ini adalah ulah nakal dari mental block kita. Nah, ini saatnya kita perlu menemukan dan mengenali mental block ini. Setelah ditemukan… ya dibereskan. Gitu aja kok repot.
Intinya, jika anda telah menetapkan target yang lebih tinggi, dari apa yang telah anda capai saat ini, dan anda merasa ada yang tidak enak di hati anda maka ini indikasi adanya mental block.
Atau jika anda mengalami kegagalan yang beruntun atau yang mempunyai pola kegagalan yang sama, maka ini indikasi sabotase diri alias mental block.
Demikian Adi W Gunawan dalam tulisannya tentang mental block yang negatif. Keberadaan mental blog didalam diri kita umumnya tidak kita sadari, kita bisa mengenalnya jika kita mengalami kegagalan secara beruntun dengan pola yang sama. Sulit mendapat jodoh, selalu gagal membuka peluang bisnis, karir tidak pernah naik, itu adalah indikasi adanya mental block yang menghalangi anda.
Bagaimana membongkar mental block yang merintangi kita ? pertama tentu kita harus menemukan dan mengenal mental block yang ada pada diri kita, setelah ketemu …..ya dilawan gitu. Ada satu cara yang cukup ampuh untuk menghancurkan mental block yang menghambat karir dan pengembangan diri yaitu dengan membaca ayat Qur’an yang dapat memotivasi diri secara berulang ulang. Contohnya sebagai berikut:
Takut gagal, merasa lemah, merasa tidak sanggup mendapatkan sesuatu
Baca surat Fathir ayat 2:

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Fathir 2)
Baca ayat tersebut berulang ulang, kalau belum hafal dengarkan rekaman ayat tersebut dari Qur’an Elektronik yang dibaca oleh Syek Abdurahman Sudais atau Musyaari Rasyid camkan maknanya didalam hati . Kemudian tadabburi ayat tersebut untuk menanamkan suatu keyakinan baru didalam fikiran bawah sadar kita sesuai makna ayat tersebut;

” Ya Allah telah Kau sampaikan kepada kami dalam Qur’anMu yang Agung, bahwa apa saja rahmat yang kau bukakan bagi kami, tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya. Dan apa saja yang Kau tahan dari kami tidak ada seorangpun yang dapat memberinya selain Engkau. Ya Allah bukakan bagi kami pintu rahmat dari segala penjuru yang Kau berkahi,  Engkau maha kuat untuk melaksanakan apa yang Kau kehendaki. Apa yang Kau kehendaki pasti terjadi , apa yang tidak Engkau kehendaki mustahil terjadi, perkenankanlah permohonan kami ya Allah ”
Lantunan ayat suci Al Qur’an  yang dibaca dengan tartil akan membawa fikiran memasuki gelombang alfa. Dengan memahami makna dan mentadabburinya kandungan ayat tersebut akan menghunjam kedalam hati dan fikiran bawah sadar, menghancurkan mental blocking yang negatif dan membangun sikap mental baru yang positip. Kenali mental blocking yang merintangi anda, cari ayat Qur’an yang sesuai untuk menghancurkan mental blocking dan membentuk sikap mental yang baru dan positip.

Hidup serba kekurangan, miskin dan merasa tidak mampu meraih kehidupan yg lebih baik
Disamping membaca surat Fathir ayat 2 diatas baca pula surat Al Israak ayat 30

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. ( Al Israak 30)

Baca ayat tersebut berulang ulang, kalau belum hafal dengarkan rekaman ayat tersebut dari Qur’an Elektronik yang dibaca oleh Syek Abdurahman Sudais atau Musyaari Rasyid camkan maknanya didalam hati . Kemudian tadabburi ayat tersebut untuk menanamkan suatu keyakinan baru didalam fikiran bawah sadar kita sesuai makna ayat tersebut;
“ Ya Allah telah Kau sampaikan kepada kami dalam Qur’anMu yang agung, bahwa Engkaulah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Engkau kehendaki. Engkau maha mengetahui dan maha memperhatikan keadaan hamba hambaMu. Ya allah bukakan bagi kami pintu rezeki dari langit dan bumiMu, bukakan bagi kami pintu rezeki dari segala penjuru yang Engkau berkati. Jangan Kau sempitkan hidup kami ya Allah, lapangkan hidup kami selapang lapangnya. Engkau maha mengetahui dan memperhatikan keadaan kami. Tolong kami ya Allah. Kau maha kuat melaksanakan apa yang Kau kehendaki. “

Lantunan ayat tersebut yang dibaca dengan berulang ulang diharapkan dapat menghancurkan mental blocking dan menciptakan suatu keyakinan baru yang positip. Ayat tersebut dapat juga dibaca dalam shalat yang dilakukan dengan benar dan khusuk.
Pada dasarnya ayat Qur’an yang anda baca dengan khusuk dan meresap kedalam jiwa akan membebaskan anda dari berbagai mental blocking yang anda sadari maupun tidak ada sadari. Al Qur’an mengajak anda untuk berserah diri kepada Allah yang mempunyai kekuatan tak terbatas. Bersama Allah bagi anda tidak ada hal yang tidak mungkin. Doa sapujagat dalam duduk iftirosh jika dibaca dengan khusuk dan sunguh sunguh, juga akan membebaskan anda dari mental blocking : Robighfirli, warhamni, wajburni, warfa’ni, warzuqni, wahdini, wa’afini, wa’fuanni… wahai Tuhan ku.. ampunilah aku… rahmati aku… tutupi keburukanku… angkat derajatku… berilah aku rezeki… berilah aku petunjuk… sehatkanlah aku… maafkan aku… Itu adalah do’a yang dahsyat dibaca minimal 17 kali dalam sehari semalam. Jika Allah kabulkan anda akan terbebas dari berbagai kesulitan dan tekanan hidup.

Cerita Motivasi Paling Mantap ini Bisa Mengubah Kehidupan Anda


Inilah cerita motivasi inspirasi yang saya yakin akan bisa mengubah kehidupan yang membacanya.
Surat ini benar-benar menyentuh hati saya. ketika membaca tulisan ini saya merasa trenyuh dan larut dalam suasana haru. Terbayang wajah ibu saya, yang telah melahirkan, mendidik, dan membesarkan dengan penuh kasih sayang. Ibu adalah yang terbaik bagiku. Tak pernah ada kata tidak untuk kami anak-anaknya ketika meminta sesuatu. Semoga Tuhan membalas kebaikan ibu dengan pahala yang besar. Semoga Tuhan senantiasa membimbing dan memberi petunjuk kepada saya untuk selalu memperlakukan ibu dengan baik serta mengasihinya sebagaimana ibu mengasihi kami, anak-anaknya.
Silahkan dibaca …………..
Wahai anakku,
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.
Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…
Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu grmbira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.
Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.
Harapanku pada setiap harinya; agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!
Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.
Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.
Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!
Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.
Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!
Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?
Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu dan budakmu. Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!
Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Tuhan mencintai orang yang berbuat baik.
Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.
Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!
Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Tuhan,
Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Tuhan, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?
Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Tuhan, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.
Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…” Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.
Wahai anakku, bertaqwalah kepada Tuhan pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.
Wassalam,
Ibumu

MUTIARA KATA

VSIcenter.com | Peluang Bisnis VSI | Veritra Sentosa Internasional | Veritra Pay | Habs Pro | Bisnis Ustadz Yusuf Mansur
VSIcenter.com | Peluang Bisnis VSI | Veritra Sentosa Internasional | Veritra Pay | Habs Pro | Bisnis Ustadz Yusuf Mansur