Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Maret 2013

Harmonisasi: Kunci Kebahagiaan


Happiness is when: what you think, what you say, and what you do are in harmony. (Mahatma Gandhi)

Seorang murid bertanya kepada gurunya apa yang dimaksud dengan kebahagiaan itu. Sang guru tersenyum dan diam. Karena tak puas murid itu kemudian bertanya lagi apakah penderitaan itu. Sang guru kemudian tertawa terbahak-bahak dan diam. Kali ini sang murid menjadi penasaran dan murid itu bertanya lagi apakah kebijaksanaan itu. Sang guru menangis dan diam. Murid tersebut pun merasa bingung dengan jawaban sang guru. Ia pun bertanya mengapa gurunya tersenyum, tertawa terbahak-bahak, dan menangis kemudian diam setelahnya.
Sang guru menjawab ia tersenyum karena semua orang pasti mengharapkan kebahagiaan. Ia tertawa terbahak-bahak karena walaupun semua orang mengatakan ingin bahagia namun mereka justru melakukan hal yang sebaliknya yang tidak akan membuat mereka bahagia. Muridnya tertegun kemudian bertanya mengapa gurunya menangis saat ditanya apa kebijaksanaan itu. Sang guru menjawab bahwa ia menangis karena sedih dengan kenyataan bahwa hanya sedikit orang yang mengerti kebijaksanaan. Dan tanpa ditanya oleh muridnya, sang guru meneruskan penjelasannya mengapa ia selalu diam setelah semua itu. Sang guru terdiam karena mengetahui sepenuhnya bahwa tiada yang dapat dilakukan untuk merubah semua itu, karena segala sesuatu sesungguhnya berpulang dan tergantung sepenuhnya pada diri sendiri…
Salam hebat untuk Anda semua,

Mengenali 7 Sumber Tekanan Mental untuk Menggapai Kebahagiaan


Setiap manusia ingin mendapatkan kebahagiaan. Banyak dari mereka menempuh berbagai upaya untuk mendapatkannya. Ada yang bekerja keras, mendalami spiritual dan bahkan ada yang sampai minum minuman keras dan menggunakan narkoba. Setelah sekian lama mencari banyak yang menyadari bahwa yang mereka dapatkan adalah sesuatu yang semu.
Salah satu cara yang bisa kita tempuh untuk menggapai kebahagiaan adalah dengan mengenali sumber ketidakbahagiaan dan kemudian meniadakannya.
Pada artikel sebelumnya kita telah mengenali 4 keinginan dasar manusia. Ada baiknya kita ingat lagi sekilas. Yang pertama adalah keinginan untuk menapatkan rasa aman, kemudian keinginan untuk mengendalikan/dikendalikan lalu keinginan untuk  mendapatkan persetujuan atau penerimaan, dan yang terakhir adalah keinginan untuk dianggap spesial atau berbeda dari yang lain. Setiap tindakan fisik kita didasari oleh pikiran yang dilandasi oleh keempat hal mendasar tersebut. Kita rela melakukan upaya apapun untuk mendapatkan keempat hal itu secara sadar ataupun bawah sadar.

Apa Yang Menarik Untuk Di Buru Orang Dalam Hidup … ?


Yang tinggal di gunung merindukan pantai.

Yang tinggal di pantai merindukan gunung.
Di musim kemarau merindukan musim hujan
Di musim hujan merindukan musim kemarau
Diam di rumah merindukan bepergian
Setelah bepergian merindukan rumah
Waktu tenang mencari keramaian
Waktu ramai mencari ketenangan
Setelah berkeluarga, belum punya anak mengeluh, setelah memiliki anak mengeluh biaya hidup dan pendidikan

TUA itu PASTI, tapi DEWASA itu PILIHAN


Suatu malam, Ibu yang bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam selesai menghidangkan makan malam untuk Ayah, sangat sederhana, berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.
Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong!
Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis. Kami menunggu dengan tegang apa reaksi ayah yang pulang kerja, pasti sudah capek, dan melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.
Luar biasa! ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan Ibu dengan tersenyum, dan bahkan berkata, “Bu, terima kasih ya!” Lalu ayah terus menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah.

KOKOHNYA KEPRIBADIAN


Kokohnya Kepribadian
Rasulullah bersabda yang artinya : Pena pencatat pahala dan dosa diangkat (tidak ditulis) dari 3 kelompok manusia: orang yang sedang tidur, orang yang pingsan sampai dia bangun, dan anak kecil hingga ia menjadi besar (Shahihul Jami').
Ilmu pengetahuan kedokteran kontemporer kini menegaskan bahwa sel-sel manusia yang di kulit, otot-otot, tulang, dan mata, semuanya mengalami perbaruan pada setiap 7 (tujuh) tahun sekali, kecuali sel pusat syaraf, sebab sel pusat syaraf selesai mengalami perkembangannya pada usia 7 tahun dimana 9/10 otaknya berkembang pada masa 1 - 7 tahun.

Selasa, 05 April 2011

HIKMAH ITU SEPERTI HARTA KARUN


Pernahkah Anda dapat cobaan? Pernahkan Anda mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan? Namun pernahkah Anda setelah itu tiba-tiba mendapatkan kenikmatan, kebahagiaan, "hadiah" setelah itu?

Ya.. Hidup ini seperti roda berputar, kadang diatas, kadang dibawah. Tentunya seperti halnya organ tubuh kita semuanya saling melengkapi. Meski banyak orang yang menggangap tangan kanan itu tangan baik, namun kita juga sekali waktu membutuhkan peran tangan kiri kita.

Bangkitlah...kamu mampu bekerja .....jangan malas


Pada sebuah kesempatan, Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah ditanya, “Ada seorang pemuda, ia mampu bekerja tapi enggan bekerja. Apa pendapat anda?”
Beliau menjawab:
Pendapatku sama dengan pendapat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,
أرى الشاب فيعجبني فأسأل عن عمله فيقولون لا يعمل فيسقط من عيني
Aku melihat seorang pemuda, ia membuatku kagum. Lalu aku bertanya kepada orang-orang mengenai pekerjaannya. Mereka mengatakan bahwa ia tidak bekerja. Seketika itu pemuda tersebut jatuh martabatnya di mataku

Rabu, 02 Maret 2011

Golden Age , Masa Emas Pertumbuhan Kecerdasan


Kenali Masa Emas Kecerdasan
Lima tahun pertama perkembangan anak, merupakan masa yang sangat penting bagi kecerdasan anak.
Oleh karena itu orang tua diharapkan memberi stimulus yang tepat. Seperti memberi sentuhan yang mendalam dan penuh kasih, aktif berinteraksi dengan mengajaknya berbicara, bernyanyi, memeluk, bercanda dan bermain. Selain itu jangan lupa memberi asupan gizi yang cukup.
Disini HoBI memberikan kesempatan kedua, apabila anda telah melewatkan masa lima tahun pertama anak anda. Bicara mengenai kecerdasan, tidak terlepas dari peran penting otak. Seperti dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Otak manusia terdiri dari dua bagian besar, yaitu otak kanan dan otak kiri. dimana keduanya mempunyai fungsi yang berbeda. Otak kanan mempunyai fungsi pada kecerdasan emosional, sedangkan otak kiri mempunyai fungsi pada kecerdasan intelektual. Dari kedua fungsi kecerdasan tersebut dapat diuraikan menjadi 9 kecerdasan ( Multiple Intelgence) yaitu :

1. Kecerdasan Logika dan Matematika
Seseorang yang memiliki kecerdasan ini mempunyai kemampuan yang lebih pada bidang matematika atau hitungan dan berfikir logis.

2. Kecerdasan Bahasa
Seseorang yang memiliki kecerdasan ini mampu mengolah dan menggunakan kata-kata. Kecerdasan ini dimiliki seorang motivator, dan pembicara.

3. Kecerdasan Musik
Seseorang yang memiliki kecerdasan ini sangat peka terhadap nada-nada. Biasanya dimiliki oleh seorang pencipta lagu.

4. Kecerdasan Visual/Ruang
Seseorang yang memilki kecerdasan ini mampuuntuk menyerap, mengubah dan mencipatakn kembali berbagai macam aspek visual (arsitek, fotografer, designer, pilot, insinyur).

5. Kecerdasan Interpersonal
Seseorang yang memiliki kecerdasan ini peka terhadap perasaan, intensi, motivasi., watak dan temperamen orang lain sehingga ia dapat mempengaruhi orang lain (networker, negotiator, guru).

6. Kecerdasan Intrapersonal
Seseorang yang memiliki kecerdasan ini mampu mengenali dan mengatur dirinya termasuk bertindak secara adaptif berdasarkan pengenalan diri.

7. Kecerdasan Gerak Tubuh/Kinestetik
Seseorang yang memiliki kecerdasan ini menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan ( atlet, pengrajin, montir, menjahit, merakit, model).

8. Kecerdasan Lingkungan Alam/Natural
Seseorang yang memiliki kecerdasan ini mampu memahami dan menikmati alam serta menjaganya.

9. Kecerdasan Spiritual
Seseorang yaang memiliki kecerdasan ini selalu meperhatikan norma-norma yang ada disekitarnya dalam berprilaku, baik itu norma agama maupun masyarakat.

DAYA INGAT
Konsep belajar dan konsep daya ingat mempunyai hubungan yuang sangat erat. Dimana belajar (Berlatih) merupakan sebuah proses pengumpulan informasi baru. Sedangkan daya ingat adalah penyimpanan informasi untuk dapat dikeluarkan pada saat yang diperlukan. Jadi jika proses penyimpanan informasi tidak tepat maka informasi yang dipelajari akan terlupakan. Untuk menghindari hal tersebut kami mempunyai cara cerdas sebagai berikut :

1. Memberi Perhatian (Register)
2. Menyimpan (Retain) (Perthankan Minat, beri arti, kaitkan, relaks)
3. Memanggil ( Retrieve) ( Recognation, Recall).


Daya ingat sendiri memiliki beberapa bentuk, yaitu :

1. Daya Ingat Sensoris
Pengolahan informasi pertama yang merekam secara tidak sadar tanpa perhatian khusus masuk lewat panca indra. Tahapan ini cepat hilang bila tidak diteruskan ke proses selanjutnya.

2. Daya Ingat Kerja
Adalah tempat dimana informasi disimpan untuk sementara serta mempunyai kapasitas yang terbatas dan berbeda-beda

3. Daya Ingat Prosedural.
merupakan prosedur-prosedur dan keterampilan-keterampilan yang dipelajari, mencakup motoris, kognitif, maupun perspektif.

4. Daya Ingat Deklaratif.
Merupakan pengetahuan yang explisit mengenai fakta-fakta yang disimpan daya ingat dan dapat di panggil secara sadar.

5. Daya Ingat Meta.
Daya ingat ini mendorong kita untuk menggunakan berbagai strategi bisa juga digunakan sebagai mekanisme untuk mengantisipasi lupa, mendeteksi lalu memperbaiki prestasi.

6. Daya Ingat Sehari-Hari dan Daya Ingat Prospektif.
Adalah daya ingat yang diperlukan untuk mengerjakan tugas sehari-hari daya ingat prospektif adalah daya ingat yang diperlukan untuk melakukan tugas dimasa datang.

Daya ingat sangat diperlukan dalam proses belajar. Setiap anak memiliki potensi belajar yang berbeda-beda. Berikut ini adalah 7 potensi belajar yang dimiliki setiap anak :

1. Visual     : Siswa lebih tepat menggunakan gambar-gambar dan pemahaman ruang.
2. Solitary   : Siswa lebih senang belajar mandiri menggunakan caranya sendiri.
3. Aural      : Siswa lebih senang menggunakan suara dan musik.
4. Physical  : Siswa lebih senang menggunakan gerak badan, angan dan rasa sentuhan.
5. Logical   : Siswa lebih senang menggunakan logika, alasan dan sistem.
6. Social     : Siswa lebih senang belajar bersama.
7. Verbal    : Siswa lebih senang menggunakan kata-kata, baik itu ucapan maupun tulisan.
Cara Menciptakan Anak Cerdas
Otak rasional berpusat di kulit otak (mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan berpikir rasional, seperti berhitung, memecahkan masalah, dan lain-lain). Otak emosional berpusat di sistem limbik (mengurusi soal perasaan: bagaimana kita menguasai diri, mengendalikan, dan bertindak sesuai dengan kadarnya).

Tips / Cara untuk menciptakan / mencetak anak cerdas, jenius, dan kreatif, setidaknya ada 5 hal yang harus diperhatikan betul:

1. Makanan

Ini amunisi otak yang sangat penting. Anak-anak yang kekurangan gizi umumnya memiliki otak yang kurang berkembang. Konsumsi ikan yang cukup, ASI, vitamin, dan mineral merupakan amunisi yang tepat bagi otak. Apa pun kursus yang Anda berikan untuk anak anda tanpa memberinya makanan yang tepat, samalah artinya dengan mengisi ruangan tanpa menguatkan dinding-dindingnya. Gizi adalah bahan baku proses-proses seluler, terutama untuk pembangunan struktur otak.

2. Lingkungan

Makin bervariasi lingkungan hdup anak Anda, makin baik perkembangan otaknya. Warna, bentuk, orang-orang yang berbeda, suasana yang bervariasi, dan lain-lain lebih mudah menstimulasi otak dibandingkan yang homogen. Jika Anda menciptakan lingkungan yang kaya dengan permainan, otak anak Anda berkembang dengan sangat pesat. Karena itu, sebisa mungkin, tempat tidur, tempat belajar (terutama di sekolah-sekolah), dan ruangan keluarga dapat diubah setiap jangka waktu tertentu. Anda perlu juga mengajaknya ke tempat-tempat yang penuh dengan hal-hal baru, seperti di pantai, gunung, dan lain-lain. Semakin bervariasi lingkungan, semakin cepat koneksi sel saraf terjadi.

3. Pengalaman emosional

Sistem limbik lebih dulu matang dibandingkan dengan kulit otak. Akibatnya, anak-anak menjadi sangat peka terhadap rangsangan dan pengalaman emosional. Semua pengalaman emosional yang diberikan pada rentang usia 0-7 tahun ini akan sangat berpengaruh dalam membentuk jalinan antar sel saraf. Pada usia ini, kontrol diri, kesabaran, kerja sama, empati, dan lain-lain lebih mudah dilatih dan tertanam kuat dalam otak dibanding berhitung, membaca, atau kegiatan-kegiatan kalkulatif lainnya. Jangan lupa, kematangan emosional ini lebih menentukan kesuksesan anak Anda di masa depan ketimbang kemampuan berhitung dan main komputer.

4. Stimulasi rasional

Hal-hal yang baru (novelty), menantang (challenge), padu (coherent), dan penuh makna (meaningful) lebih cepat memengaruhi otak ketimbang hal-hal yang lazim dan biasa. Jika setiap hari Anda memperkenalkan kata-kata baru kepada anak Anda, teknik-teknik baru dalam berhitung, tugas-tugas yang menantang dan penuh makna (misalnya, membuat percobaan fisika yang berkenaan dengan hal-hal sehari-hari), otaknya akan lebih cepat berkembang. Hal-hal yang menantang, seperti menemukan bentuk tertentu dalam banyak bentuk, dapat memperbanyak hubungan sel saraf. Origami (seni melipat kertas) adalah salah satu cara memperbanyak hubungan sel saraf. Attention of details juga merangsang otak. Berikan sebuah batu kerikil atau dedaunan kepada anak-anak. Mintalah mereka mencermati alur, warna, bentuk, dan ciri-ciri lain yang tidak tampak jika hanya dilihat sepintas. Perhatian pada hal-hal kecil, terutama bentuk dan warna, membuat sinaps saraf bertambah banyak.

5. Aktivitas fisik

Aktivitas fisik memengaruhi otak dengan tiga cara: 1) meningkatkan sirkulasi darah ke otak. Artinya, oksigen, gula, dan zat gizi juga bertambah. 2) Memengaruhi produksi hormon NGF (Nerve Growth Factor); dan 3) merangsang produksi dopamin. Zat ini berfungsi penting dalam menata perasaan (mood) anak Anda. Semakin sering dan terampil ia melakukan kegiatan fisik, semakin baik perkembangan otaknya.

Lima hal di atas tidak berdiri sendiri. Semuanya saling melengkapi dan saling memengaruhi. Anda tidak boleh mengedepankan dan memprioritaskan satu di antara yang lain. Jika Anda harus memilih yang utama, disarankan untuk melatih emosi anak Anda lebih dulu. Kematangan emosi memerlukan waktu tertentu untuk berkembang. Sedangkan kecerdasan rasional dapat Anda tingkatkan kapan saja Anda mau.
Sumber: detik

Merancang Peta Perjalanan Sukses


Dalam perjalanan kita menuju sukses, cita-cita kita menjadi peta jalan kita. Untuk membuat kemajuan, kita perlu semacam peta jalan, bukan karena kita berharap tiba di satu tempat tujuan, melainkan karena ia memperlihatkan cara untuk menjalani perjalanan itu. Di dalam perjalanan menuju sukses, bagian pertama sama penting dengan bagian akhir. Hal yang utama adalah bergerak terus-menerus ke arah tujuan kita. Menetapkan cita-cita merupakan cara terbaik untuk meyakinkan bahwa itu akan terus terjadi.
Dalam perjalanan menuju sukses, bagian pertama sama penting dengan bagian akhir, Cita-cita memberikan kita sesuatu yang konkret untuk difokuskan, yang akan memberikan dampak positif pada tindakan kita. Seperti yang diucapkan oleh James Allen, “Kamu akan menjadi sekecil keinginan mengontrol kamu, sebesar aspirasi dominan Kita.” Cita-cita menolong kita memfokuskan perhatian pada sasaran kita dan membuatnya menjadi aspirasi dominan kita. Mereka membantu kita mengetahui ke mana kita pergi. Seperti yang ditulis oleh ahli filosofi dan pujangga Ralph Waldso Emerson, “Dunia membuat jalan bagi orang yang tahu ke mana ia pergi.”
Jutawan industri Andrew Carnegie mengatakan, “Anda tidak bisa mendorong seseorang ke atas tangga kecuali ia sendiri mau memanjatnya.” Fakta yang sama berlaku pada seseorang di perjalanan menuju sukses. Ia tidak akan bergerak ke depan kecuali terdorong melakukannya. Cita-cita memberikan motivasi itu. Paul Myer berkomentar, “Tidak ada orang yang bisa memperoleh sesuatu berkonsekuensi tanpa satu sasaran … Cita-cita menetapkan tenaga terkuat manusia sebagai motivasi diri.”
Renungkanlah itu. Apakah salah satu motivasi terbesar di dunia ini? Sukses. Ketika kita melakukan aktivitas besar (seperti mimpi kita) dan memisahkannya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih mudah diatur (cita-cita), kita menetapkan diri kita menjadi sukses karena membuat apa yang ingin kita capai lebih terjangkau. Setiap kali kita berhasil mengerjakan cita-cita kecil, kita mengalami sukses. Itu sangat memotivasi! Raihlah cita-cita kecil, dan Kita akan mengambil langkah besar untuk mencapai tujuan dan mengembangkan potensi Diri.
Cita-cita tidak hanya menolong mengembangkan motivasi permulaan dengan membuat impian Kita terjangkau, tetapi juga menolong kita untuk terus merasa termotivasi – sehingga menciptakan momentum. Sekali Kita berada di dalam perjalanan menuju sukses, akan sulit bagi Kita untuk berhenti. Proses itu serupa dengan kereta api. Memulai kereta api merupakan proses yang paling sulit. Dalam keadaan berhenti, kereta itu bisa dicegah untuk maju ke depan dengan sebongkah kayu setebal 2 cm dijepitkan di roda kemudinya. Tetapi, sekali kereta itu mulai melaju dengan kecepatan tinggi, bahkan tembok beton dan baja setebal 5 kakipun tidak bisa menghentikannya.
Renungkanlah !
Pada saat kita mempunyai cita-cita mendaki sebuah titik puncak bernama Sukses, kita seharusnya mulai merancang sebuah sketsa dan peta yang akan mengarahkan kita untuk mulai bergerak mendekati hingga benar-benar mampu mencapainya. Peta-peta itulah yang nantinya akan menuntun kita pada sebuah perjalanan menuju sukses.
Sumber : Buku Karya John C. Maxwell "Perjalanan Menuju Sukses"

Peran Orang Tua dalam Mendukung Sukses Pendidikan Anak


Dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua (orang tua) dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.” (QS al-Isra, 17:24)
Sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ” Wahai Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS al-Ahqaf, 46:15)
Ayat pada surat al-Isra di atas menggambarkan betapa besarnya arti pendidikan orang tua kepada anak-anak semasa mereka kecil, hingga Allah swt mengabadikan dalam lafazh doa pada al-Quran. Sementara itu, pada surat al-Ahqaf:15 tergambar bahwa kematangan kepribadian seorang beriman tercermin dalam usaha dan permohonan kepada Allah agar kebaikan pada dirinya menjadi washilah kebaikan yang akan diperoleh anak cucunya. Oleh karenanya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak-anak semasa kecil menjadi sebuah kewajiban dalam ajaran Islam.
Orang tua hendaknya memiliki pengetahuan dan visi yang shahih (benar) dan jelas akan arah pendidikan anak. Ayat di atas memberi bekal para orang tua agar mengarahkan pendidikan anak pada sikap bersyukur kepada Allah dan pada perbuatan-perbuatan kebajikan (’amal shalih) yang diridhai Allah. Visi ini harus melekat pada orang tua di tengah berbagai tarikan-tarikan materialisme dalam tujuan kehidupan [1].
Professor Arief Rachman mengatakan bahwa anak butuh akhlak dan watak [2]. Beliau melihat pendidikan di Indonesia secara umum hanya menekankan aspek kognitif (pikiran, akademis). Hal-hal yang sifatnya terukur saja. Sementara itu, soal akhlak dan watak serta hal lain yang tidak terukur, boleh dibilang ditelantarkan. Padahal kalau kita membaca tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Pendidikan, kita bisa melihat bahwa tujuan pendidikan itu memuat juga kedua hal tersebut. Inilah yang menyebabkan bangsa ini sulit menjadi bangsa yang besar. Korupsi masih ada di mana-mana, sikap tidak sportif merebak di berbagai dimensi kehidupan dan sikap-sikap negatif lainnya.
Menimbang hal-hal di atas, makalah ini akan dibuka dengan sifat pendidik suskes menurut arahan Nabi Muhammad saw. Kemudian dikupas secara singkat bentuk-bentuk pelibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah. Dan pada bagian akhir disampaikan kiat-kiat orang tua dalam membangun jiwa (kepribadian) anak yang merupakan bagian paling mendasar dalam pendidikan.
Sifat-sifat Pendidik Sukses dalam Pengarahan Nabi saw.
Ustadz Muhammad Ibnu Abdul Hafizh Suwaid mencatat beberapa sifat pendidik sukses sebagai berikut [3]
1.      Penyabar dan tidak pemarah, karena dua sifat ini dicintai Allah swt. (h.r. Muslim dari Ibnu ’Abbas)

2.      Lemah lembut (rifq) dan menghindari kekerasan.
Allah itu Maha Lemah Lembut, cinta kelemahlembutan. Diberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan dan kepada selainnya (h.r. Muslim dari ’Aisyah). Tidaklah kelemahlembutan itu terdapat pada sesuatu melainkan akan membuatnya indah, dan ketiadaannya dari sesuatu akan menyebabkannya menjadi buruk. (h.r. Muslim)

3.   Hatinya penuh rasa kasih sayang
Sesungguhnya setiap pohon itu berbuah. Buah hati adalah anak. Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya. Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang yang bersifat penyayang. (h.r. Ibnu Bazzar dari Ibnu ’Umar)

4.      Memilih yang termudah di antara dua perkara selama tidak berdosa
Tidaklah dihadapkan kepada Rasulullah antara dua perkara melainkan akan dipilihnya perkara yang paling mudah selama hal itu tidak berdosa. (Mutafaq ‘alaih)

5.      Fleksibel (layyin)
Bukanlah fleksibilitas yang berarti lemah dan kendor sama sekali, melainkan sikap fleksibel dan mudah yang tetap berada di dalam koridor syariah. Neraka itu diharamkan terhadap orang yang dekat, sederhana, fleksibel (lembut) dan mudah –qariib, hayyin, layyin, sahlin- (h.r. Al Kharaiti, Ahmad dan Thabrani)

6. Ada senjang waktu dalam memberi nasihat
Ibnu Mas’ud hanya memberi nasihat kepada para sahabat setiap hari Kamis. Maka ada seorang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdur Rahman, alangkah baiknya jika Anda memberi nasihat kepada kami setiap hari.” Beliau menjawab, “Saya enggan begitu karena saya tidak ingin membuat kalian bosan dan saya memberi senjang waktu dalam memberikan nasihat sebagaimana Rasulullah lakukan terhadap kami dahulu, karena khawatir kami bosan.” (Muttafaq ‘alaih).
Dasar dari sifat-sifat mulia di atas adalah keshalihan orang tua. Keshalihan orang tua ini akan memiliki pengaruh positif terhadap anak-anak. Firman Allah, “Dan orang-orang yang beriman, Kami akan pertemukan keturunan mereka dengan mereka. Dan Kami sedikitpun tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”  [QS ath-Thur, 52:21]. Mengomentari ayat ini, Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah akan mengangkat derajat keturunan manusia bersama orang tuanya di Surga nanti walaupun kedudukannya tidak setinggi orang tuanya.”
Keikutsertaan Orang Tua dalam Pendidikan Anak di Sekolah
Beberapa peneliti mencatat bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah berpengaruh positif pada hal-hal berikut [4].
·         Membantu penumbuhan rasa percaya diri dan penghargaan pada diri sendiri
·         Meningkatkan capaian prestasi akademik
·         Meningkatkan hubungan orang tua-anak
·         Membantu orang tua bersikap positif terhadap sekolah
·         Menjadikan orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap proses pembelajaran di sekolah
Pihak sekolah dapat menyiapkan beberapa metoda untuk dapat melibatkan orang tua pada pendidikan anak, diantaranya dengan:
·         Acara pertemuan guru-orang tua
·         Komunikasi tertulis guru-orang tua
·         Meminta orang tua memeriksa dan menandatangani PR
·         Mendukung tumbuhnya forum orang tua murid yang aktif diikuti para orang tua
·         Kegiatan rumah yang melibatkan orang tua dengan anak dikombinasikan dengan kunjungan guru ke rumah
·         Terus membuka hubungan komunikasi (telepon, sms, e-mail, portal interaktif dll)
·         Dorongan agar orang tua aktif berkomunikasi dengan anak
Diantara teori pendidikan menyebutkan sebuah paradigma tripartite (tiga pusat pendidikan), yang menempatkan sekolah, keluarga dan masyarakat sebagai tiga elemen yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan [5]. Dari ketiga elemen tripartite itu, keluarga merupakan fokus utama yang harus mendapat perhatian lebih, karena anak lebih banyak berada di rumah.
Cara Efektif Membangun Jiwa Anak
Sesungguhnya tugas utama pendidikan anak adalah membangun jiwa mereka agar siap menerima berbagai pelajaran dan kelak mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh demi kebaikan sesama. Ustadz Muhammad mengupas pengarahan Nabi Muhammad saw dalam membangun jiwa anak [6], sebagai berikut.
   1. Menemani anak
Persahabatan punya pengaruh besar dalam jiwa anak. Teman adalah cermin bagi temannya yang lain. Satu sama lain saling belajar dan mengajar. Rasulullah saw berteman dengan anak-anak hampir di setiap kesempatan. Kadang-kadang menemani Ibnu ’Abbas berjalan, pada waktu lain menemani anak paman beliau, Ja’far. Juga menemani Anas. Begitulah Rasulullah berteman dengan anak-anak tanpa canggung dan tidak merasa terhina.
   2. Menggembirakan hati anak
Kegembiraan punya kesan mengagumkan dalam jiwa anak. Sebagai tunas muda yang masih bersih, anak-anak menyukai kegembiraan. Bahkan orang tua merasakan kegembiraan dengan riangnya mereka. Oleh karena itu, Rasulullah saw selalu membuat anak-anak bergembira, antara lain dengan cara:
Ø  Menyambut anak dengan baik
Ø  Mencium dan mencandai anak
Ø  Mengusap kepala mereka
Ø  Menggendong dan memangku mereka
Ø  Menghidangkan makanan yang baik
Ø  Makan bersama mereka
3. Membangun kompetisi sehat dan memberi imbalan kepada pemenangnya
Umumnya manusia, apalagi anak-anak, suka berlomba. Rasulullah pun suka membuat anak-anak berlomba, misalnya ketika beliau membariskan Abdullah, Ubaidillah, dan anak-anak ‘Abbas lainnya, lalu bersabda, “Siapa yang mampu membalap saya, dia bakal dapat ini dan itu …” Maka mereka pun berlomba membalap Rasulullah saw sehingga berjatuhan di atas dada dan punggung beliau. Setelah itu mereka diciumi dan dipegangi oleh beliau.
   4.  Memberi pujian
Pujian punya pengaruh penting dalam diri anak, sebab dapat menggerakkan perasaan dan emosinya sehingga cepat memperbaiki kesalahannya. Mereka bahkan menunggu-nunggu dan mendambakan pujian.
   5. Bercanda dan bersenda gurau
Canda dan senda gurau akan membantu perkembangan jiwa anak dan melahirkan potensinya yang terpendam. Rasulullah saw menyerukan, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah diajak bersenda gurau!” (h.r. Ibnu Asakir)
   6. Membangun kepercayaan diri anak
Ini dilakukan dalam bentuk:
Ø  Mendukung kekuatan ‘azzam pada anak, misalnya melatih menjaga rahasia dan membiasakan anak berpuasa
Ø  Membangun kepercayaan sosial
Ø  Membangun kepercayaan ilmiah
Ø  Membangun kepercayaan ekonomi dan perdagangan
   7.   Memanggil dengan panggilan yang baik
Bermacam-macam cara Rasulullah saw memanggil anak, tujuannya untuk menarik perhatian dan membuat anak siap mendengar apa yang hendak dipesankan. Panggilan ini misalnya “nughair” atau si burung pipit, “ghulam” yang berarti anak, atau “wahai anakku”. Sementara para sahabat memanggil anak-anak dengan “wahai anak saudaraku”.
8.   Memenuhi keinginan anak
Adakalanya orang tua harus memenuhi permintaan anak. Ini juga merupakan cara efektif untuk menumbuhkan emosinya dan menambat jiwanya terhadap orang tua. “Sesungguhnya barangsiapa berusaha menyenangkan hati anak keturunannya sehingga menjadi senang, Allah akan membuatnya merasa senang sehingga di akhirat ia benar-benar akan merasa senang.” (h.r. Ibnu Asakir)
   9.   Bimbingan terus-menerus
Anak, sebagaimana manusia lazimnya, sering salah dan lupa. Dibanding semua makhluk lain, masa anak-anak manusia adalah yang paling panjang. Ini semua kehendak Allah, agar cukup sebagai waktu untuk mempersiapkan diri menerima taklif  (kewajiban memikul syariat). Orang tua harus secara telaten membimbing anak pada masa kanak-kanaknya. Ibnu Mas’ud berkata, “Biasakanlah mereka (anak-anak) dengan kebaikan, karena kebaikan itulah yang akan menjadi adat (kebiasaannya).”
  10. Bertahap dalam pengajaran
Contohnya pada saat mendidik anak untuk shalat. “Perintahkan anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika enggan shalat) ketika berumur sepuluh tahun.” (h.r. Abu Dawud)
  11. Imbalan dan ancaman
Cara ini tidak kalah pentingnya dalam membangun jiwa. Rasulullah saw juga menggunakan cara ini dalam pendidikan. Contohnya untuk membuat anak berbakti kepada orang tua, beliau menyebutkan besarnya pahala berbakti kepada orang tua dan besarnya ancaman begi mereka yang durhaka kepada orang tua.
Catatan Penutup
Pendidikan anak pada hakikatnya adalah tanggung jawab para orang tua. Oleh karena itu keterlibatan orang tua dalam mendukung sukses anak menuntut ilmu di sekolah merupakan kewajiban. Untuk menjadi pendidik yang baik, orang tua mesti menghiasi dirinya dengan keshalihan. Peran penting orang tua adalah membangun dan menyempurnakan kepribadian dan akhlak mulia pada anak. Untuk itu perlu sikap-sikap pendidik seperti sabar, lembut, dan kasih sayang.
Untuk melengkapi pendidikan anak di sekolah, orang tua mesti membangun jiwa anak sesuai pengarahan Nabi Muhammad saw.

MUTIARA KATA

VSIcenter.com | Peluang Bisnis VSI | Veritra Sentosa Internasional | Veritra Pay | Habs Pro | Bisnis Ustadz Yusuf Mansur
VSIcenter.com | Peluang Bisnis VSI | Veritra Sentosa Internasional | Veritra Pay | Habs Pro | Bisnis Ustadz Yusuf Mansur